Daun Si Dukuang Anak / Daun Meniran

Di Minangkabau, tumbuhan ini dikenal dengan nama sidukuang anak (sidukung anak), tetapi berbeda untuk dijawa, tumbuhan ini dikenal dengan nama meniran ijo, memeniran dan meniran sementara karena buahnya sebesar menir. Didalam bahasa latin, tumbuhan ini dikenal bernama Phylanthus aurinaria , merupakan tumbuhan liar sebagai gulma menjanjikan potensi sebagai bahan obat tradisional yang sangat berharga. Nenek moyang kita sudah memanfaatkannya sebagai obat penggempur batu ginjal, penurun panas, antidiare, diabetes pelancar air seni, encok, sembelit, dan pereda sakit pinggang.
Dinamakan sidukung anak, karena butiran/biji yang tumbuh didaun tersebut, melekat dibawah daun. Jadi daunnya seolah-olah seperti menggendong butiran biji tersebut spt orang menggendong anaknya. (bahasa minang gendong itu dukuang/dukung)
meniran1[1]
Apa yang menjadi uniknya tumbuhan ini selain khasiatnya untuk pengobatan? Yaitu cara tumbuh berkembangnya.

Hampir semua tumbuhan dapat ditanam (planting) dengan sengaja oleh manusia. Baik tumbuhan hias maupun tumbuhan liar. Akan tetapi berbeda dengan sidukung anak ini. Tumbuhan ini, tidak bisa tumbuh dengan cara sengaja menanamnya.

Jadi, bagaimana tumbuhan ini bisa hidup?
Tumbuhan ini dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa bantuan manusia. Dan malah dibantu manusia tumbuhan ini justu tidak bisa hidup. Bahkan, tumbuhan ini bisa tumbuh begitu saja diatas pasir, lapangan rumput, tepi jalan, tepi selokan, dekat pembuangan sampah dan dimana saja begitu saja.

Berdasarkan warnanya tanaman sidukung anak alias meniran ini dapat dibedakan atas dua spesies, yaitu sidukung anak (meniran) merah dan sidukung anak (meniran) hijau. Keduanya tergolong famili jarak-jarakan Euphorbiaceae.

Sidukung anak merah (Phyllanthus aurinaria)berbatang merah. Kalau buahnya masak, kepala sari bunganya akan secara pecah melintang. Sedangkan sidukung anak hijau (Phyllanthus niruri) berbatang hijau. Kalau buahnya masak, kepala sari bunga akan pecah secara membujur.

Yang digunakan untuk bahan obat seluruh bagian tanaman, akar, dan daunnya. Bahan segar yang diperoleh diangin-anginkan dulu sampai kering (di tempat yang teduh) sebelum dipakai sebgai bahan racikan obat. Rasanya pahit, agak masam, sejuk.

Disumatera, tumbuhan ini dikenal lebih berkhasiat untuk mengobati penyakit diabetes.
Dengan cara merebus 11-12 batang tumbuhan ini. Dengan rutin meminumnya 3x sehari. Kadar gula akan stabil.

Di Thailand, meniran dimanfaatkan untuk mengobati demam dan sebagai diuretic. Dalam Ayuerda, pengobatan tradisional India yang telah digunakan selama lebih dari 2000 tahun, meniran secara luas dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kuning (jaundice), diabetes, kencing nanah, gangguan mestruasi, serta kulit bengkak dan gatal-gatal.

Secangkir air rebusan daun meniran bisa untuk mengobati diare. Ini mungkin karena daun meniran mengandung senyawa antibakteri seperti filantin, hipofilantin, nirantin, dan nirtetrakin.

Di Amerika Selatan, meniran digunakan untuk asam urat, mengobati batu ginjal, batu empedu, flu dan demam. Meniran juga sebagai diuretic dan obat infeksi saluran kemih.

Jika sistem imun tubuh sedang loyo, kita sebenarnya punya banyak pilihan untuk mengdongkraknya naik kembali. Secara tradisional, banyak bahan alami yang bisa dimanfaatkan seperti madu alami, pegagan, mahkota dewa, daun dewa, sambiloto, jahe, mengkudu, atau meniran. Tanaman-tanaman ini sudah teruji secara empiris mampu membuat tubuh tetap fit.

Dalam sejarah obat tradisional Indonesia, meniran sebenarnya telah dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai keluhan penyakit. Dari mulai radang dan batu ginjal, susah buah air kecil, disentri, ayan, penyakit lever, sampai rematik.

Dari ratusan kandungan kimia meniran yang dimanfaatkan hanya flavonoidnya. Pada tanaman lain, flavonoid sejenis ini sebenarnya juga ada. Bedanya, pada meniran, peningkatan aktivitas sitem imunnya ternyata lebih baik.

Flavonoid dari meniran bekerja pada sel-sel tubuh yang menjadi bagian dari sistem imun. Caranya dengan mengirimkan sinyak intraseluler pada reseptor sel, sehingga sel bekerja lebih optimal. Jika sistem imun dalam sel berfungsi memakan bakteri (fagosit) nafsu makan jadi bertambah. Jika fungsinya mengeluarkan mediator yang menambah ketahanan tubuh, hasil pengeluaran akan lebih baik. Atau jika kerjanya mengurai sel lain, prosesnya akan berlangsung lebih mulus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s